Melayani dalam Damai dan Kasih Tuhan

Ditulis oleh: Angel Goeltom-Paat (Ketua Pelkat Pelayanan Anak)

Foto: indopositive.org

 

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (Mazmur 133:1)

Tentunya, sungguh menyenangkan memang dapat melayani dengan rukun dan damai. Walaupun menurut saya, pelayanan adalah pekerjaan yang paling sulit.

Seorang pelayan di Gereja bekerja secara sukarela, namun mereka dituntut untuk tetap bekerja secara profesional dan dengan sepenuh hati. Tentunya di samping itu kita juga dihadapkan dengan berbagai kesibukan pribadi, urusan rumah tangga, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Berhubungan dengan begitu banyak orang dalam suatu jemaat, menghadapkan kita dengan begitu banyak karakter dan keunikannya.

 

Foto: toppr.com

Tentunya tidak semua orang dan semua hal dapat berjalan sesuai harapan kita pribadi. Sesungguhnya di saat seperti itulah ketahanan iman kita dibentuk dan semakin dikuatkan. Iman yang benar akan selalu mendatangkan kedamaian. Dalam 1 Korintus 12:4-5 disebutkan “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan”. Semua orang terlahir dengan karunia yang berbeda-beda. Perbedaan itu hendaknya jangan kita anggap sebagai penghambat, namun sekarang bagaimana cara kita untuk menyatukan segala perbedaan untuk tujuan yang baik. Seperti yang tertulis dalan 1 Korintus 12:7 yaitu, “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”

Contoh sederhana, dalam suatu jam ibadah, ada pianis, ada penyanyi, ada pelatih paduan suara, ada pelayan firman, petugas multimedia, dan kameramen. Dan tidak mungkin kita memaksakan seseorang harus menguasai seluruh hal tersebut. Setiap individu dianugerahi dengan talentanya masing-masing. Dengan menyatukan potensi-potensi tersebut, maka akan tercipta kesatuan yang indah dalam suatu ibadah bersama.

Untuk mewujudkan hal tersebut banyak hal yang harus kita pelajari dengan baik. Mulai dari cara berorganisasi yang benar, manajemen waktu, menentukan prioritas, komunikasi yang baik, tanggung jawab, kepemimpinan dan lain sebagainya. Dalam perjalanan pelayanan itu tentulah tidak mudah. Kita harus selalu mengingat pesan dalam Alkitab yaitu, Iman, Kasih, dan Pengharapan dalam melayani kapanpun dan dimanapun.

Dengan demikian kiranya kita dapat belajar untuk melayani dengan damai. Karena melalui pelayanan sesungguhnya kita juga dapat membuka ruang untuk mendapatkan banyak sekali ilmu pengetahuan yang baik untuk masa depan kita. Kita dapat memperluas koneksi kita dengan orang lain.

Saya pribadi, tujuan pelayanan saya bukan supaya dapat banyak berkat, bukan juga karena takut Tuhan marah dan sebagainya. Pelayanan yang saya lakukan adalah wujud rasa syukur dan terima kasih atas segala kebaikan Tuhan dalam hidup saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.