Menjalani Kehidupan Lansia yang Bermakna, Terus berkarya dan Berbuah

Ditulis oleh: Adolf Warouw (Ketua PKLU GPIB Paulus)

MENJALANI KEHIDUPAN LANSIA YANG BERMAKNA, TERUS BERKARYA DAN BERBUAH, TIDAK REDUP DARI PEKERJAAN, IBADAH DAN PELAYANAN

Menarik sekali artikel yang ditulis oleh Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Berbuah” yang menggambarkan lansia sebagai generasi yang sudah tidak memiliki “masa depan” tapi justru memiliki sesuatu yang sangat berharga yaitu masa lalu. Terlepas apakah warga lansia menerima atau menolak pandangan tersebut, Penulis ini ingin mengarahkan kaum lansia untuk mengaktualisasikan aset berharga ini dalam kehidupan masa kini dengan ajakan untuk membuahkan masa lalu yang kaya dengan hikmat (wisdom) dan kearifan keteladanan, pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan yang luhur. Dengan demikian kaum lansia tetap memiliki peran, baik dalam persekutuan dan lingkungan jemaat/gereja, maupun dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa.

PKLU GPIB Paulus sebagai salah satu unit misioner di lingkungan Jemaat GPIB Paulus berkomitmen untuk melaksanakan misi pelayanannya sesuai dengan jati diri dan karateristik sebagai generasi lanjut usia melalui berbagai program dan kegiatan yang ditetapkan. Moto PKLU yang didasarkan pada Mazmur 92:15 bahwa ‘sampai masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar’ memuat suatu pesan yang misioner. PKLU GPIB Paulus memaknai peran dan pelayanan yang diembannya dalam konteks lansia yang kehidupannya (well being) memiliki empat dimensi yaitu spiritual, fisik mental dan social.

Program kerja PKLU yang dituangkan dalam 10 kegiatan rutin ditambah dengan sejumlah kegiatan non-rutin merupakan perwujudan dari ke-empat dimensi tersebut. Program PKLU mencakup kegiatan peribadatan, pertemuan rutin warga lansia sebagai wadah silatuhrahmi, perkunjungan rutin ke rumah-rumah warga lansia, kegiatan paduan suara dengan jangkauan pelayanan yang luas (termasuk pelayanan tingkat sinodal ke berbagai daerah dan di gereja/komunitas lain), pelatihan fisik/senam dan pelatihan mental, pelatihan alat musik (angklung) dan tari-tarian, kegiatan media lansia (sudah berusia sekitar 24 tahun secara berkesinambungan), bursa buku-buku rohani, serta kegiatan non rutin yang berkelanjutan seperti Paskah, HUT PKLU, Perayaan Natal, dan kegiatan bazar.

Dengan demikian, misi pelayanan PKLU GPIB Paulus tidak semata-mata berkaitan dengan aspek spiritualisme, tetapi juga aspek-aspek lainnya  yang sangat penting dan diperlukan bagi peningkatan kualitas lansia agar mereka dapat menjalani kehidupan yang bermakna, khususnya  dalam lingkup persekutuan PKLU, dapat berperan aktif dalam pelayanan, terus dapat berkarya dan berbuah dan memberikan dampak positif dalam lingkungan keluarga, jemaat dan masyarakat.

Dengan pendekatan pelayanan yang sifatnya holistik ini, kelompok/generasi lanjut usia ini tidak terjebak pada anggapan atau perasaan bahwa mereka adalah kaum yang “tidak berguna’ lagi, hidup menghadapi penderitaan (fisik atau mental), tidak lagi produktif dan kreatif dan bahkan merasa terpinggirkan. Melalui berbagai program dan kegiatan PKLU GPIB Paulus, para Lansia dilibatkan dan disalurkan minatnya sesuai talenta yang dimilikinya. Dalam wadah PKLU Lansia diberdayakan baik sebagai subjek maupun objek dalam pelayanan lingkup gereja dan masyarakat.

Di samping berbagai kegiatan di atas, tahun 2019 PKLU GPIB Paulus telah merintis program Kelas Lansia, suatau program belajar non formal berbasis spiritual dengan tujuan meningkatkan pemahaman kehidupan rohani dan pertumbuhan spiritualitas, pengetahuan kesehatan secara holistik, keterampilan menjalani hidup sehat (fisik, mental dan sosial), sehingga lansia dapat berperan aktif secara biopsikososial dalam kehidupan sehari-hari, produktif dan terus melayani.

Peserta Kelas ini telah mengikuti modul dasar yaitu pemahaman spiritualitas melalui sesi Pengenalan Alkitab selama 5 minggu (5 sesi) di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Pembinaan Pelayanan Perkunjungan Pastoral. Modul-modul selanjutnya berkaitan dengan aspek biopsikososial (pengetahuan kesehatan termasuk kesehatan mental, gizi, penyakit degeneratif, kebugaran fisik, aspek kognitif/mental lainnya, serta kesehatan psikologis/sosial) belum dapat dilaksanakan karena terkendala berbagai hal.

Keseluruhan program dan kegiatan PKLU GPIB Paulus diselenggarakan bertumpu pada pemahaman dan penghayatan spiritual yang kuat sehingga warga lansia diharapkan bertumbuh spiritualitasnya (growing up), tumbuh bersama sebagai satu persekutuan (growing together), dan bertumbuh keluar (growing out) dalam lingkup keluarga, persekutuan dan masyarakat.

Penguatan keluarga merupakan fokus peran lansia/PKLU sebagai generasi yang sarat dengan hikmat, pengalaman dan nilai-nilai luhur. Ayub 12:12 menyatakan bahwa “hikmat ada pada orang yang tua dan pengertian ada pada orang yang lanjut umurnya”. Tantangan bagi PKLU adalah bagaimana persekutuan ini lebih memberi makna bagi misi PKLU sebagai persekutuan yang misioner dengan jangkauan dan partisipasi aktif warga lansia yang semakin luas.

Partisipasi warga jemaat yang telah memasuki tahap usia lanjut (lansia ‘junior’) masih merupakan tantangan tersendiri. Perasaan being old’ dan stigma bahwa lansia adalah kelompok yang sudah pudar, lemah, fisik dan mental sudah menurun, tidak produktif, tidak cemerlang, dan sebagainya, tampaknya menjadi hambatan psikologis bagi sebagian lansia junior untuk berkiprah dalam pelayanan PKLU. Sikap dan pandangan seperti ini harus ditinggalkan. Faktor usia tidak perlu menjadi penghalang bagi lansia junior untuk melayani.

Foto: Tribun Manado

Alkitab menyaksikan banyak tokoh-tokoh besar yang melakukan karya-karya besar di masa usia lanjut. Abraham pada usia 75 tahun, Musa pada usia 80 tahun dan Harun 83 tahun, lalu Daniel diangkat sebagai Gubernur pada usia 80 tahun, dan Kaleb menaklukkan Kanaan pada usia 85 tahun. Kitab mazmur sangat bisa ditulis oleh sejumlah sastrawan yang sudah lanjut usia, kata Andar Ismail. Juga pengabdian tokoh-tokoh seperti Gandhi, Theresa, dan Mandel mencapai mutu puncaknya ketika mereka berusia sekitar 80 tahun.

Melalui persekutuan PKLU GPIB Paulus warga lansia diajak untuk menjalani kehidupan masa tua yyang segar dan bermakna, membuahkan masa lalu dalam kehidupan masa kini, menjadi warga lansia yang berkualitas.

Amanat Mazmur 92:15 memotivasi lansia untuk terus berkarya dan berbuah, memberikan arti dan manfaat kepada sesama, menjadi berkat bagi orang lain. Dengan kekuatan spiritual Mazmur 92:15 lansia memperteguh semangat dan tekad bahwa dalam masa tuapun lansia terus aktif, produktif dan berbuah. Kehadirannya memberikan dampak positif bagi lingkungan kehidupannya (keluarga, persekutua jemaat, komunitas social, dan masyarakat)

Lansia memiliki keindahan dan kebanggan. The beauty of old men is the grey head. (Proverb 20: 29b).

 

Jakarta, 28 Juli 2020
Adolf Warouw

Leave a Reply

Your email address will not be published.