Renungan Minggu

“MENDIDIK KELUARGA MENJADI PRIBADI CINTA DAMAI”
(Kejadian 13: 1-8)

Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dengan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu,sebab kita ini kerabat.” (ay.8)

Tuhan mempersatukan Sarai dan Abram untuk hidup bersama saling menopang dan melengkapi. Mereka merupakan pasangan suami istri yang rukun dan penuh welas asih. Ketika Haran saudara kandung Abram meninggal dan Sarai mandul maka mereka bersepakat membawa Lot anak Haran tinggal bersama mereka. Mereka berdua merawat Lot dengan penuh kasih sayang bagaikan anak sendiri hingga dewasa. Tumbuh dalam keluarga yang demikian. Lot terdidik sebagai sosok yang juga cinta damai.
Ketika keluarga itu tinggal di Mesir, Firaun raja Mesir memerintahkan mereka pergi dari Mesir. Maka mereka pergi ke Negeb. Tanah yang mereka tempati di Negeb tidaklah begitu luas, sebab orang-orang Kanan dan Feris juga banyak yang menetap disana. Tak jarang terjadi pertikaian antara para gembala Abram dan Sarai dengan gembala-gembala. Lot akibat perebutan lahan tempat ternak merumput. Sebagai pribadi-pribadi yang selalu mengutamakan penyelesaian masalah dengan cara-cara damai, Abram dan Sarai mengingatkan Lot pertengkaran-pertengkaran itu tidak mempengaruhi hubungan keluarga di antara mereka.
Saudara-saudara, dalam kehidupan di era digital, orang begitu mudahnya melontarkan komentar yang penuh hasutan. Ujaran kebencian diunggah begitu saja. Apalagi di tahun-tahun ketika suhu dan tensi politik meningkat seperti saat ini. Orang-orang tak segan menulis kata-kata kasar, menghina dan memfitnah. Keluarga adalah taman tempat anak-anak bertumbuh. Ketika pertumbuhan itu berakar dalam keluarga yang selalu menempatkan kerukunan, akal sehat, dan welas asih, maka baik di dunia nyata maupun di dunia maya mereka akan memilih keselarasan, kerukunan dan kedamaian. Keluarga adalah lingkungan tempat anak-anak berkembang dengan kemampuan menahan diri dari keterlibatan di media sosial dengan cara-cara yang picik dan kasar.