Skip to main content

Makna Persembahan dalam Tradisi GPIB: Penatalayanan Harta di Tengah Budaya Konsumerisme | GPIB Paulus Jakarta


Artikel 9 dari 10 (Set GPIB Paulus Jakarta)

Di tengah budaya konsumerisme Jakarta, GPIB Paulus Jakarta mengajak jemaat memahami kembali makna persembahan (kolekte, persepuluhan, syukur) bukan sebagai kewajiban finansial, melainkan respons iman dan penatalayanan (stewardship) yang Alkitabiah.

Berbicara soal uang seringkali menjadi topik yang sensitif, bahkan di dalam gereja. Di kota metropolitan seperti Jakarta, di mana biaya hidup tinggi dan budaya konsumerisme begitu kuat menggoda kita untuk terus membeli dan memiliki lebih banyak, topik tentang memberi kepada Tuhan bisa terasa memberatkan atau disalahpahami.

Ada yang melihat persembahan sebagai sekadar “iuran keanggotaan” gereja untuk membayar tagihan listrik dan gaji pendeta. Ada pula yang terpengaruh oleh teologi kemakmuran yang keliru, memandang persembahan sebagai “investasi” di mana Tuhan wajib mengembalikannya berlipat kali ganda secara materi.

Di GPIB Paulus Jakarta, kita berpegang pada ajaran Alkitab dan tradisi Reformed yang memandang persembahan dalam kerangka yang jauh lebih indah dan mendalam, yaitu sebagai penatalayanan (stewardship) dan ucapan syukur.

Artikel ini bertujuan untuk meluruskan pemahaman kita tentang makna persembahan dalam tradisi GPIB, agar ketika kita memasukkan amplop ke dalam kantong kolekte, kita melakukannya dengan sukacita dan pemahaman teologis yang benar.

Dasar Teologis: Kita Adalah Penatalayan, Bukan Pemilik

Konsep dasar penatalayanan Kristen adalah pengakuan radikal bahwa: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mazmur 24:1).

Segala sesuatu yang kita miliki—gaji, bonus, aset rumah, mobil, bahkan kesehatan dan kemampuan kita untuk bekerja—pada hakikatnya bukanlah milik kita. Semua itu adalah titipan Tuhan. Kita hanyalah manajer atau penatalayan (steward) yang dipercayakan untuk mengelola harta milik Tuan kita untuk sementara waktu di dunia ini.

Ketika kita memberi persembahan, kita tidak sedang “memberi uang kita kepada Tuhan” (karena Dia tidak membutuhkan uang kita). Sebaliknya, kita sedang:

  1. Mengakui Kedaulatan Allah: Mengembalikan sebagian dari apa yang Dia percayakan sebagai tanda pengakuan bahwa Dia adalah Sumber segala berkat.
  2. Melatih Ketergantungan: Memberi melatih kita untuk tidak terikat pada mamon (harta) dan percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidup kita dengan sisa yang ada pada kita.
  3. Merespons Kasih Karunia: Persembahan adalah respons syukur kita yang paling wajar atas anugerah keselamatan terbesar yang telah kita terima dalam Yesus Kristus (2 Korintus 8:9).

Bentuk-Bentuk Persembahan di GPIB

Dalam tata ibadah dan kehidupan bergereja GPIB, kita mengenal beberapa bentuk persembahan yang memiliki fokus berbeda namun satu semangat:

1. Persembahan Persepuluhan (Persembahan Wajib)

Ini adalah persembahan yang dikhususkan dari 10% penghasilan kita. Meskipun di GPIB kita tidak menekankannya secara legalistik (seperti hukum Taurat Perjanjian Lama yang kaku), kita mengajarkannya sebagai prinsip alkitabiah tentang memberikan yang “sulung” dan “terbaik” bagi pekerjaan Tuhan secara sistematis dan disiplin. Persepuluhan adalah tulang punggung untuk mendukung operasional gereja dan gaji para pelayan penuh waktu (Pendeta), memastikan pelayanan Firman dan Sakramen dapat terus berjalan.

2. Persembahan Syukur (Kolekte Mingguan)

Ini adalah persembahan sukarela yang kita berikan dalam setiap ibadah Minggu sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan sepanjang minggu yang telah berlalu. Jumlahnya tidak ditentukan, melainkan sesuai dengan kerelaan hati dan berkat yang diterima masing-masing jemaat.

3. Persembahan Khusus (Misalnya: Diakonia, Pembangunan)

Ini adalah persembahan yang ditujukan untuk kebutuhan spesifik, seperti membantu saudara yang kekurangan melalui pelayanan diakonia, mendukung misi pekabaran Injil di pos-pos pelayanan (Pos Pelkes), atau merawat gedung gereja kita yang bersejarah.

Sikap Hati yang Benar dalam Memberi

Lebih penting daripada jumlah nominal yang kita berikan adalah sikap hati saat memberi. Rasul Paulus memberikan pedoman yang indah:

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).

Makna persembahan dalam tradisi GPIB bukanlah tentang keterpaksaan atau ketakutan akan kutuk jika tidak memberi. Ini adalah tentang kemerdekaan untuk menjadi murah hati karena kita telah menerima kemurahan hati Allah yang tak terhingga.

Di tengah kota Jakarta yang mendorong kita untuk menumpuk harta bagi diri sendiri, tindakan memberi persembahan secara rutin dan setia adalah sebuah tindakan perlawanan rohani. Ini adalah pernyataan bahwa keamanan hidup kita tidak terletak pada saldo rekening bank, melainkan pada Allah Sang Pemelihara.

Mari kita terus bertumbuh dalam kasih karunia memberi, sebagai wujud nyata dari iman dan penatalayanan kita yang bertanggung jawab.

Alfa Mandalika

Author Alfa Mandalika

More posts by Alfa Mandalika

Leave a Reply